Kutipan, Catatan Kaki, dan Bibliografi

Saya memiliki pengalaman yang cukup merepotkan ketika pertama kali harus menulis karya ilmiah. Hal itu terjadi ketika mendapat tugas membuat sebuah artikel sebagai tugas pada salah satu mata kuliah. Bagi penulis pemula seperti saya, cara-cara mengutip, menyusun catatan kaki, dan menyusun bibliografi benar-benar menyita hampir satu per empat dari waktu yang digunakan untuk menyusun karya ilmiah.

Nah, atas dasar itulah saya mencoba berbagi dengan siapapun yang sedang atau akan menulis sebuah karya ilmiah. Tulisan ini bersumber dari buku Komposisi karangan Prof. Dr. Gorys Keraf yang coba saya sarikan ditambah dari sumber-sumber lain.
1. Kutipan
Kutipan pada hakikatnya adalah pinjaman pendapat orang lain yang disusun dalam bentuk kalimat sebagai penguat pendapat yang kita sampaikan. Kutipan dibedakan menjadi kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung berarti kita memakai pendapat orang lain dan menuliskannya secara lengkap tanpa melakukan perubahan dari suatu sumber teks asli. Kutipan tidak langsung berarti kita meminjam pendapat orang lain dalam bentuk inti sari sedangkan kalimatnya kita susun sendiri.
Selanjutnya kita harus memperhatikan prinsip umum dari membuat kutipan langsung yaitu:
1. tidak boleh merubah kata-kata atau teknik dari teks aslinya. Jika kita menganggap perlu melakuan perubahan teknik penulisannya (misalnya kalimat yang digarisbawahi ingin dirubah dalam bentuk huruf miring) maka kita harus memberi keterangan dalam tanda kurung segi empat berbunyi [huruf miring dari penulis].
2. bila dalam kalimat yang kita kutip terdapat kesalahan dalam ejaan dan tata bahasa atau kita tidak setuju dengan satu bagian dari kutipan, kita tidak boleh memperbaikinya, tetapi perbaikan itu dapat dilakukan dalam bentuk catatan kaki, atau setelah kata yang salah kita tuliskan [sic!];
3. dalam mengutip kita diperkenankan menghilangkan bagian-bagian tertentu yang kita anggap tidak berpengaruh terhadap makna asli dari pendapat yang kita kutip.

Nah sekarang kita akan membahas cara-cara dan teknik mengutip.
1. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris ditulis secara langsung dengan teks dengan jarak dua spasi diapit oleh tanda kutip dan setelah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (sumber akan tampak pada catatan kaki) atau ditulis nama singkat pengarang (nama belakang), tahun terbit, dan nomor halaman yang ditempatkan dalam tanda ( … );
2. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris ditulis dipisahkan dari teks dengan jarak 2,5 spasi. Jarak anatar baris kutipan satu spasi, tidak diapit oleh tanda kutip, kutipan ditempatkan lebih ke dalam dari badan tulisan (5 – 7 ketikan), dan setelah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (sumber akan tampak pada catatan kaki) atau ditulis nama singkat pengarang (nama belakang), tahun terbit, dan nomor halaman yang ditempatkan dalam tanda ( … );
3. Dalam kutipan tidak langsung, kutipan diintegrasikan dengan teks, jarak antar baris dua spasi, tidak diapit oleh tanda kutip, dan setelah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas (sumber akan tampak pada catatan kaki) atau ditulis nama singkat pengarang (nama belakang), tahun terbit, dan nomor halaman yang ditempatkan dalam tanda ( … );
2. Catatan Kaki
Catatan kaki atau footnote adalah keterangan-keterangan atas teks tulisan yang ditempatkan pada kaki halaman tulisan. Catatan kaki dapat berupa penunjukan sumber (referensi), catatan penjelas (memberi penjelasan tambahan atas suatu teks), dan gabungan dari sumber dan penjelas.
Teknik pembuatan catatan kaki :
– Sediakanlah tempat yang cukup pada kaki halaman sebuah tulisan;
– Sesudah baris terakhir teks, dalam jarak 3 spasi buatlah garis sepanjang 18 ketikan ;
– Dalam jarak 2 spasi dari garis, buatlah nomor penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas dengan jarak 5 – 7 ketikan dari margin kiri dan langsung diketik catatan kaki. Jarak antar baris adalah spasi rangkap dan jarak antar catatan kaki dua spasi.
Cara menggunakan singkatan-singkatan dalam catatan kaki:
– Ibid. digunakan bila referensi kedua, dst merujuk pada referensi pertama dan mempunyai nomor urut berurutan, jika referensi merujuk pada halaman yang berbeda dengan referensi sebelumnya, maka ditulis ibid. hal …
– Op. cit. digunakan bila referensi yang dipakai merujuk pada referensi sebelumnya tetapi sudah diselingi sumber yang lain. Pada penggunaan singkatan op.cit. ditulis setelah nama belakang pengarang dan tanda koma. Misal Keraf, op. cit. Jika halaman dalam buku yang dijadikan referensi berbeda dengan refrerensi sebelumnya maka ditulis Keraf, op.cit. hal …
– loc. cit. digunakan seperti singkatan op. cit. tetapi singkatan loc. cit merujuk pada referensi berupa artikel
– et sq. digunakan untuk menunjukan referensi yang didapat dari sebuah halaman dan berlanjut ke halaman berikutnya, bila halamannya masih berlanjut maka singkatannya et seqq. dan seterusnya. Misal hal. 12 et sqq. Maksudnya halaman 12, 13, dan 14.
3. Bibliografi
Bibliografi atau daftar pustaka adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan terbitan (bias juga yang tidak diterbitkan), yang memiliki hubungan atau menjadi sumber dari sebuah tulisan.
Unsur-unsur bibliografi meliputi nama pengarang, judul buku, daftar publikasi memuat penerbit, tempat terbit,tahun terbit, cetakan ke …, nomor jilid, dan tebal halaman.
Agak berbeda penulisan bibliografi dan catatan kaki. Nah untuk lebih jelas berikut ini beberapa contoh menuliskan kutipan, catatan kaki, dan bibliografi

Cara membuat catatan kaki dan bibliografi berupa penunjukan sumber tergantung pada jenis sumber referinsinya.
1. Buku dengan seorang pengarang
Contoh :
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Menurut Wardhani, “Proses penulisan karya ilmiah memerlukan tahapan telaah dan evaluasi yang menyeluruh terhadap konsep pemikiran atau hasil yang pernah dilakukan dan ditemukan dalam bidang yang akan kita tulis.”1 Dengan demikian proses …………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Selanjutnya Wardhani juga mengungkapkan bahwa hubungan menulis dengan berfikir ilmiah terletak pada kesamaan bahwa keduanya menuntutu kejernihan berpikir, akurasi, dan tanggung jawab.2 Adanya kesamaan ini ……………………………………………………………………………….. ………………………………………………………………………………………………………………………………………………

_________________

1I.G.A.K. Wardhani, Teknik Menulis Karya Ilmiah (Jakarta, 2007), hal. 3.5
2Ibid.

Bibliografinya berbentuk :
Wardhani, I.G.A.K. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007
Atau
Wardhani, I.G.A.K. 2007. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas Terbuka.
2. Buku dengan dua atau tiga pengarang
………………………………………………………………………………………………
Untuk mendefinisikan hasil belajar, Dimyati dan Mudjiono merumuskan sebagai berikut :
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar yang dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring juga merupakan gambaran tingkat penguasaan peserta didik terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang disampaikan yang diukur berdasarkan jumlah skor jawaban benar dalam soal yang disusun berdasarkan tujuan pembelajaran.14

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

_________________
14Moh. Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta, 2001), hal. 10

Dalam bibliografinya ditulis :
Dimyati, Moh., dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rhineka Cipta. 2002.
Atau (lihat contoh penulisan sebelumnya)

bersambung …

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s